Untuk Temanggung Bersenyum, bagian 1

28 Agustus 2012

Ini tulisan kesekian memakai komputer pinjaman, dan kali ini dengan keadaan yang lumayan asoy. Monitornya seperti lebih mencintai warna putih dan biru, dan hebatnya ini juga calon PC yang akan saya pinjam untuk belajar menggambar sekaligus mengiyakan beberapa orderan permintaan tolong membuat design kaos. Mengiyakan, karena ada asap yang harus disambung, billing warnet yang harus dibayar untuk sekedar berburu kesempatan pekerjaan impian, email yang harus dibuka, CV yang harus di print, amplop cokelat bergaris garis merah biru yang harus dibeli, biaya kirim pos yang harus dipikirkan, garis pikiran yang harus dipertahankan, serta untuk sekedar update senyum Kim Taeyeon yang paling unyu sedunia wawawawawawa  >_< oke, here we go.. J

Kota_temanggung3

“Negeri Tembakau”

Tulisan ini berangkat dari sebuah perjalanan berburu pakaian bekas berkelas satu  di daerah Parakan. Saya kurang begitu ingat perjalanan itu melewati daerah bernama apa, yang jelas ada sebuah bangunan kiri jalan dari kota Temanggung ke Parakan berdominasi warna hitam dan merah dengan sebuah tulisan penegasan diatas pintu masuknya berbunyi seperti ini, “Negeri Tembakau”. Terlalu dini bila mengatakan kota cakep bernama Temanggung ini disebut sebuah “NEGERI”, karena toh disebut “KOTA” pun nanggung -__- Saya berani mengatakan demikian karena bila melihat apa apa saja yang ada di kota kelas kedua, Temanggung lumayan ketinggalan kacrutnya.

Tembakau. Saya sejak dulu agak gimana gitu, bila kota ini selalu dikenal hanya lewat produksi Tembakau nya. Apa memang iya hanya itu, atau memang hanya itu? Sampai pada akhirnya saya tidak terlalu peduli, karena disibukkan dengan hidup saya sendiri yang itu itu saja. Namun sebulan terakhir ini, lewat banyak obrolan dengan banyak orang, dengan banyak latar belakang profesi, berlatar belakang status social yang berbeda, serta umur yang berbeda pula, mata indah saya seperti dibukakan kembali mengenai kota Bersenyum ini.

“Mbak kembang desa, aku siramin, boleh..?”

Saya bisa dibilang saksi hidup bagaimana system pasar tradisional bekerja, dimana tawar menawar dan sepik menyepik pembeli adalah sensasi lucu sarat estetika sastra serta bagaimana kembang desa gunung berseliweran mencari high heels untuk lebaran (duh, give me your best city kimcil, pasti gak akan kalah amoy nya dengan “Mountain Village Flower Temanggung”! HAHA!) . Mengingat keluarga besar saya yang hampir sebagian besar mengisi satu RT bergantung hidupnya dari pasar tradisional tersebut. Sampai akhirnya orang tua saya mampu membiayai S1 saya juga lewat hasil berdagang di pasar tradisional tersebut.

Kembali ke bagian village flower tersebut (aseeekkkk..), mereka yang secara sepihak dihakimi kurang update secara penampilan dan merupakan kumpulan mudah rayu situasi berselimut “wah” merupakan target market primer pasar tradisional. Tidak melulu kembang desa nya, saya bicara tentang sifat natural laki laki, dimana ada kembang desa tumbuh dan membaui dunia, disitu ada kampret yang ngrubungin. Itulah kenapa ada Ladies Night di club malam, ada istilah Free For Ladies, dan pemberitauan di flyer gigs: “Bawa cewek, gratis masuk”, maka secara libido otomatis, pasar pun ramai lelaki dan perempuan. Jackpot!

Sistem kedatangan nya pun bergerombol memakai mobil bak terbuka dari gunung langsung ke jantung Kota Temanggung. Memaklumi, karena selain ngirit biaya transportasi, konon katanya, angin di kota ini mempunyai efek positif untuk meningkatkan sensualitas saat menerpa rambut kecoklatan wanitanya :D. hal ini baru saya sadari benar benar disaat saya sedang jalan kaki menuju mushola di dekat pasar, dimana berjejeran mobil bak maupun non bak kelas C di sekitaran parkiran Pasar Temanggung.  Istilah tv nya sih, belanja kebutuhan lebaran. Itulah konsumen pasar tradisional. Eksistensi sederhana yang tidak pernah dipedulikan oleh dunia (halah)

“Atas Nama Tembakau”

Korelasinya seperti ini, mereka yang berprofesi sebagai tani tembakau, biasanya berdomisili di bagian atas kota ini. Ketika panen, maka pendapatannya akan digunakan untuk belanja. Dalam hal ini, mall yang dituju adalah pasar tradisional. Itulah kali pertama saya berani mengatakan, bagaimana semua kalangan bergantung pada meruahnya uang hasil tembakau. Tuas terlupakan penggerak roda ekonomi kecil kota ini.

Mengatakan bahwa ramai kota dan pasar tergantung dari panen tembakau adalah terlalu cepat, namun juga tidak salah. Karena memang hanya itu pemicu awal untuk sementara ini. Namun ada beberapa kegelisahan yang perlu saya sampaikan pada tulisan semrawut ini.

Pertama, baru saja ada sebuah swalayan kelas 2 yang dibangun dan beroperasi di daerah alun alun Temanggung. Sebuah tempat baru berwajah FTV satu siang dan merupakan sesuatu paling nge hipe saat ini bagi para pelaku shopping gunung. Tidak boleh disalahkan bila mengingat kota ini sedang memoles diri. Hanya saja, mungkin untuk kedepannya, pemkot kota ini mau untuk lebih memikirkan efek kedepannya bagi pergerakan ekonomi kecil didalamnya. Karena pada akhirnya, yang terkena imbasnya adalah bagian pedagang pakaian di pasar tradisional.

Kemarin saat saya coba survey di tempatnya langsung (cieehhh), untuk bagian sepatu dan sandal,barang yang dijual masih sama dengan yang di pasar namun dengan label harga yang lumayan selangit bedanya. Untuk bagian, sembako dan tetek bengeknya, duh bagi pelaku usaha dagang kecil, melihat pesaing berhamburan dalam bentuk mini market, seperti sudah tidak ada harapan. 2 tahun yang lalu, hanya ada satu warung 24 jam didepan Sayangan berbentuk mobil box, sekarang, mini market pada nongkrong dampingan kayak pasangan yang pacaran di warnet Radja dulu. Entah kenapa ijin berdiri mini market tersebut bisa sedemikian mudah. Konon katanya, yang tahu hanya Tuhan dan Bupati Temanggung lengkap dengan calon calon bupati selanjutnya yang secara terang terangan melakukan kampanye duluan.

Kembali lagi, seperti yang saya tulis diatas, sayangnya target market primer nya itu masih sama dengan pasar tradisional, namun dengan etalase yang lebih sempurna
bagi mata konsumen setengah tanggap. Jadi ketika waktu seperti kemarin, bagian pedagang pakaian mengalami penurunan omset yang cukup besar. “Ra patio rame mas, kalah karo sing mileh dewe karo mlaku mlaku. Padahal ra iso dinyang regane” (ditranslate: “gak terlalu rame mas. Kalah sama yang milih sendiri sambil jalan jalan. Padahal juga gak bisa ditawar harganya”) itu adalah tutupan obrolan ketika saya nongkrong di tempat permak jahit pakaian milik paman saya di pasar. Sebuah obrolan dengan salah satu pedagang pakaian di pasar tersebut saat bulan puasa. Bulan dimana tingkat konsumsi pakaian harusnya meninggi setingginya. Saya tidak menyalahkan swalayan tersebut, hanya saja, mungkin untuk kedepannya pihak pemkot Temanggung paling tidak harus lebih berpikir kedepannya lagi dan melakukan survey lebih lebih lebih dalam lagi sebelum ijin bangunan berwajah FTV yang lainnya dibangun di jantung kota.

Kedua, menyoal Tembakau dan jasanya untuk roda ekonomi kecil kota ini. Berkaca dari pasar Temanggung saja, ketika panen tiba, Tembakau memberikan pekerjaan bagi banyak orang kecil. Mereka yang merentalkan mobil bak lengkap dengan sopirnya untuk sekedar tour shopping ke pasar. Para tukang parkir, keseluruhan isi pasar Temanggung, termasuk didalamnya ada pedagang, warung makan kecil, becak untuk mengangkut barang belanja seabrek menuju tempat parkir,  hingga WC umum bertarif pun mengalami peningkatan omset. Sebuah system kecil berkesinambungan, saling bergantung, dan melengkapi.

Ketiga, Tembakau tidak sesederhana apa yang dibahas di Lawyers Club atau teriakan LSM soal hidup sehat. Kompleksitas yang perlu dipahami lebih jauh, karena tanaman ini di Temanggung seperti didewakan. Mempunyai nilai jual tinggi, sehingga menanamkan mindset ke kaum mudanya bahwa mereka yang mau terjun di bisnis ini seperti menanam emas, hingga merelakan gelar sarjananya hanya menjadi penghias kartu undang nikah saja. Mungkin ini kali pertama saya berani mengatakan, iya, ketergantungan kota ini ke tembakau memang sedemikian besarnya.

Keempat, Apa iya potensi kota ini hanya Tembakau? Sepertinya sih tidak, hanya saja butuh banyak bantuan dan kerjasama banyak pihak untuk menggali potensi tersebut dan paling tidak memberi wajah baru nan segar ke Temanggung. Tanaman kopi di Temanggung konon katanya mempunyai kualitas yang asoy bin bohay. Nah ini saya gak ngerti, karena keterbatasan media untuk googling. Modem saya mati sejak 2 bulan yang lalu. -__- namun seorang kawan saya yang mana beliau salah satu pemilik coffeshop di Semarang pernah mengatakan bahwa kopi di Temanggung mempunyai kualitas asyik. Nah, jadi mana lagi yang akan kau dustakan kisanak? Masa’ iya saya gak percaya ke orang yang sudah bergelut dengan kopi hingga merelakan masa studinya bengkak? πŸ˜€

Ketinggian kalau saya bilang kota ini butuh City Branding lagi. Namun juga gak salah, siapa tahu ketika musim tembakau anjlok, ada alternative kopi sebagai penggantinya. Dan siapa tahu, Temanggung bisa membuat acara tahunan bertajuk “Temanggung Coffe Festival” lengkap dengan acara jazz dan pameran produk kopi. Terus si pembuat radio asal Temanggung yang menang lomba design itu? Entah kenapa kok tidak di up terus. Siapa tahu, patung tani yang sekarang dibelakangnya sudah dibangun Tv raksasa oleh salah satu perusahaan rokok besar di Indonesia, bisa diganti dengan landmark yang lebih punya identitas. Siapa tahu kan?

Menyoal wisatanya, hal ini baru saja tercetus oleh saya ketika salah satu gitaris Ok Karaoke sms saya dan Tanya: “Van, tempat wisata nang Temanggung ki opo ik?” duh.. saya hanya bisa jawab mungkin si Waterpark nanggung itu. Itu juga udah hamdalah banget bos. Kota ini miskin sekali dengan tempat tujuan wisata yang tertata rapi nan merdu di promosikan. Coba ke Temanggung di musim seperti sekarang ini, matahari lagi anget angetnya, angin juga lagi lucu lucunya. Langitnya? Sebiru cintamu padanya. Kenakan kemeja motif bunga, wayfarer terbaikmu dan senyum selebar dunia. Pas! Pacaran-able pokoknya. Mungkin juga daripada memfokuskan untuk pembangun gedung belanja atau mini market 24 jam lebih seru kalau dibangun sebuah taman kota rapi layak wisata, berkuliner tepusat, berparkiran sehat, mempunyai panggung teater terbuka untuk acara music dan kesenian. Karena kalau lihat alun alun sekarang, duh, itu malah kayak lapangan olahraga dikelilingi kaki lima. Ndak keci gitu diliatnya dek. >_<. Karena pada intinya, tempat ini butuh hiburan. Sayangnya ini dibaca pemkot seperti ini: “mbangun mall enak kih..” -__________- rendang luwih enak pak!!

Kelima, ini ditulis murni pandangan pribadi dan dasar cinta yang kuat ke kota kelahiran. Toh kalau pada akhirnya ada suara sumbang mengatakan: “ha mbok kowe sing dadi pemkot!” , saya Cuma bisa bilang, “lha po dadi PNS ki koyo dadi power rangers! Mencet jam terus dadi, helm an san! Warna warni san”. Lagipula terlalu banyak gairah yang saya korbankan. Paling tidak saya juga gak Cuma menjalankan fungsi masyarakat sebagai control social ke pemkot nya, ndak Cuma protes, tapi punya usul. Toh kalau ndak diterima kan bisa cari cewek lain! (eh).

Namun, belakangan ini saya juga mendengar beberapa kabar bagus dari kota ini kok. Dari sungai yang digunakan untuk arung jeram (mayan), KickFest kecil kecilan namun tetap bertarget pemakai high wear. Jadi yang beli juga yang ngerti begituan. Pan udah beda tuh yah referensinya. Ngerti kan? Paling tidak itu memberi jembatan tegas, konsumen tepat untuk produk yang tepat. Toh jubah social dan pendakian sosialnya adalah bagian dari hidup. Manusia hanya perlu melihatnya, kalau punya modal, baru deh terjun dan mewadahinya. Bukan asal tabrak situasi “wah” untuk system monopoli yang lebih lebih. Karena ada yang bilang, “gerakan ekonomi kecil dulu, maka otomatis ekonomi besar akan ikut besar. Jangan langsung besarnya. Ekonomi kecilnya yang ambruk nanti”. Terus satu lagi kabar baiknya, konon dari info penjaga warnet langganan saya yang juga Eggtroops nya SAL, bahwa skena Black, Brutal dan Death Metal kota ini lagi nge hype. Belum lagi anak HC dari Parakan yang mulai mau tampil. Kemarin pun saya secara langsung melihat ada band Reggae main di Pawonkoe. Rapi gitu mainnya. Ada yang joget pula. Mayan…   

Keenam, apapun yang ditulis diatas adalah apa yang terjadi di kalangan bawah. Kalangan yang masih hepi saja menikmati keriaan 17 Agustus an tanpa tahu apa yang terjadi di pusat dan kelakuan para petingginya. Yang tetap mengibarkan merah putih walaupun sekarang istilah merdeka masih rancu artinya. Yang secara sederhana berpikiran “asal bisa makan 3 kali sehari dulu” tanpa tahu semua visi misi LSM mengenai kesehatan paru paru soal konsumsi rokok dan kegelisahannya mengenai Tembakau. Karena sudah saya bilang, Tembakau dan rokok tidak sesederhana mengajak hidup sehat dan segala macamnya. Walaupun saya yakin itu adalah niat mulia, namun paling tidak perlu lebih sekedar survey dan penyuluhan. Perlu, mengalami dulu.

Ketujuh, pendirian ijin segala macam bangunan baru itu mungkin murni sebagai perias wajah Temanggung. Mulia kok itu saya ngerti bagian itu. Namun bersolek itu polesan bukan? Kalau diibaratkan tubuh, Temanggung butu
h tidak hanya sekedar riasan. Coba mandi, cuci muka dulu, biar lebih segar. Jangan bangun tidur langsung make up an. -__- ntar kayak badut dong saat jalan2 sambil belanja. Dikira jomblo lho. Dan jangan lupa sisiran. Kayak saya dong, rajin mandi, wangi, klimis.. (tapi tetep jomblo, lah!)
J

Terakhir, Menyoal ketergantungan Tembakau, ide Kopi dan segala macamnya, itu juga butuh bantuan dari semua pihak. Saya rasa itulah kenapa selalu ada strata jabatan dan fungsi. Karena itu diciptakan untuk koordinasi bukan sekedar beda angka slip gaji. Toh kalau pada akhirnya mentok pada korupsi, itu murni pilihan pribadi dan kadar cinta ke kota ini. Saya hanya bisa menuliskannya saja, karena, saya bukan siapa siapa. Saya cuma warga negara ganteng, LDR an nya Kim Taeyeon,  baik hati, sering dilukai wanita, dan kebetulan saya ber KTP Temanggung. Itu saja.

Selamat malam, Tuhan bersama Kota Temanggung. *kecup lembut kening Kim Taeyeon*

 

 

Advertisements