Cerita Langit Untuk Agni – Bagian 5

Wangi susu cokelat hangat mengarungi setiap sudut kamar Agni. Seperti parfum ruangan, namun lebih alami, lebih murah dan lebih bisa di konsumsi. Ada beberapa bebauan yang memang masuk ranah dewa, dan salah satunya adalah susu hangat, Agni menyebutnya, aroma yang mengayomi. Harusnya laki laki memang memakai parfum dengan wewanginan seperti itu, untuk mengayomi hidung perempuannya. Karena parfum itu dipakai untuk orang lain bukan?
Posisi Langit masih belum berubah, tetap menghadap jendela terbuka itu, sekelilinganya seperti kabut, asap rokok dimana mana, mengitari, layak aura negatif tapi melindungi. Sorot matanya berbeda, sekarang lebih tenang. Langit punya dua sorot mata, dua duanya teduh. Teduh disini bukan cerah seperti lindungan pohon rindang besar di rerumputan luas, lebih ke langit yang tidak mau hujan dan pamer warna abu abu nya, hanya saja yang satu selalu mudah hilang. Seperti jentikan jari hipnotis, tiba tiba menghilang, melamun ke bayangan ideal menurutnya. Bagi sebagian orang, itu adalah sesi menyenangkan, bagaimana tidak? Seperti sejenak menjalani karakter dan cerita ideal mereka, kendali maksimal. Menjadi pemeran sekaligus penulis cerita, dimana Tuhan tidak ikut campur dalam pembuatan cerita itu.
Suara di kamar Agni sore itu hanya hembusan asap rokok dan aduan sendok dengan gelas. Hanya ada sesekali suara angin. Dan itu lebih dari cukup, dunia kadang terlalu berisik bukan?
Lama dua orang itu diam, Agni jelas menunggu apa yang akan dikatakan, atau lebih tepatnya dimuntahkan Langit, sampai pada akhirnya kesabaran dia selesai pada ujungnya, Agni tidak tahan lagi, si bangsat ini mulai terlihat menyebalkan di matanya. Dan bahkan tidak ada tanda tanda dia akan bersuara. Antara tidak tahu diri atau jangan jangan.. Langit sudah mati. Mati sambil duduk, dan itu adalah rokok terakhirnya. Beberapa penelitian benar benar menunjukkan, bahwa seseorang bisa meninggal karena patah hati. Jadi didalam setiap hati manusia ada benang benang kecil yang berfungsi menemani darah untuk tour kecil di organ tersebut, nah benang ini bisa benar benar putus bila si pemilik organ mengalami trauma emosional yang besar dan terus menerus. Iya, Langit jangan jangan benar benar sudah meninggal. Agni mulai kepikiran, dan itu makin menyebalkan. Agni yang harus memulai pembicaraan lagi. Tepat setelah hembusan asap rokok Langit yang kesekian, dan setelah tegukan kecil susu hangat nya, Agni menemukan pertanyaan terbaiknya, “Ngit,.. is she worth enough?”