Di Sebuah Taman Bersama Lyra dan Seruni

“Ini sudah terlalu lama, aku tidak tahan untuk tidak bicara. Lebih tidak tahan lagi kenapa sampai sekarang kamu tidak menanyakan kenapa aku bisa jatuh cinta setiap hari padamu. Maka biarkan aku mengatakannya, sekali ini saja, aku mohon Seruni, hanya untuk kali ini. Aku tidak tahan lagi. Siksaan terbesar manusia bukan berbentuk materi, tapi ketika tuntutan bahwa mereka butuh lawan bicara yang tidak terpenuhi. Kamu tahu itu. Dan seharusnya kamu lebih tahu kalau aku menemukan versi terbahagiaku saat ada didekatmu. Dengan itu aku mulai yakin, bahwa surga tidak hanya ada dibawah telapak kaki seorang ibu. Tetapi itu juga ada di tiap gestur tubuhmu, dan bisa kamu bayangkan kan bagaimana surga seindah apa bila kamu yang menjadi seorang ibu nanti. Seperti itu aku melihatmu. Dengan alasan itu pula aku menemukan versi terbahagiaku, aku belum menemukan alasan lain untuk tidak jatuh cinta tiap hari kepadamu. Iya, terdengar egois memang, sia sia bila pada akhirnya, hanya aku yang menemukan versi bahagiaku. Aku terlalu sering melihatmu tanpa rasa nyaman saat aku memaksa hadir didepanmu, tapi satu hal, aku tidak sempurna, semua orang juga sama. Kamu juga. Aku tidak butuh jawaban yang sempurna, cukup yang bisa aku terima dengan lapang dada. Jadi, katakan, ada yang salah dengan ucapanku dan dengan menjadi ‘Kita’? Aku mohon Seruni, kamu tahu aku benci teka-teki, bicaralah”. Pintu ruangan itu tiba tiba diketuk, terbuka, Mika menemukan wajah Lyra disana, “Seruni masih belum mau bicara.. Kenapa dia tidak mau bicara..” Lyra hanya bisa tersenyum dengan pertanyaan itu, sebuah pertanyaan sama tiap siangnya, dan senyum itu adalah jawaban terbaiknya. Lyra menghampiri pasien favoritnya itu, memeluknya, “Selamat siang Mika.. Belum minum obat kan siang ini?” Bagi Mika, dia lebih butuh pelukan itu lagi, bukan obat, dilihatnya muka perempuan itu. “Dok, saya gak sakit jiwa..” Lyra hanya bisa tersenyum, pernyataan itu adalah paket setelah pertanyaan Mika yang pertama ditiap siang nya. “Biarkan Seruni istirahat dulu ya, lihat tuh, dia kayaknya kecapekan. Obatmu harus diminum, habis ini Dokter temenin jalan jalan di taman, cuacanya lagi cerah diluar, sini mana Seruni nya..” Boneka beruang itu diambil dari tangan Mika, pelan diletakkan diatas bantal berwarna putih itu. “Dok, berapa kali saya bilang, saya tidak sakit jiwa” | “iya Mika, kamu hanya sedang jatuh cinta” pelukan itu diberikan lagi. Senyum Lyra masih tetap terjaga, tapi tidak dengan air matanya. “Gih obatnya diminum, terus kita jalan jalan di taman depan”