Album Terbaik Indonesia tahun 2015: Silampukau – Dosa, Kota dan Kenangan

image

Selamat siang.
Saya sedang punya waktu sangat banyak, jadi dengan penuh totalitas dan spirit kelas menengah bagian bawah, saya mau mencoba memberikan sebuah apresiasi bagi satu band yang mengisi playlist saya beberapa waktu ini. Dan dengan berani saya bilang, bagi saya, ini adalah rilisan terbaik tahun 2015 di negeri ini (menurut saya lho..)
Jadi, perkenalkan, SILAMPUKAU dengan sebuah album megah berjudul Dosa, Kota dan Kenangan.
Ketika menyimak satu lagu nya yang diperdengarkan oleh seorang kawan, saya langsung teringat Iwan Fals. Sudah, jangan diperdebatkan Iwan Fals yang kapan, angkatan album berapa atau idealisme yang sebelah mana nya kopi instan. Toh di negara indah ini cuma ada satu Iwan Fals, yang lainnya fals beneran. Kembali ke SILAMPUKAU, konon di Indonesia, scene folk paling maju dan berkembang ada di daerah Jawa Timur dengan Malang dan Surabaya sebagai poros nya, belum saya temukan data yang signifikan untuk mendukung hal tersebut, saya juga tidak terlalu ambil pusing, karena bagi saya, ketika sebuah band menaruh folk sebagai pondasi musik nya, berarti band tersebut punya misi mulia untuk menyuarakan apa yang dirasakan sekitarnya, dan tak perlu muluk muluk bicara besar, ndak cukup itu mulut ciptaan Tuhan buat ngomong besar.
Lirik yang disuarakan SILAMPUKAU bagi saya merupakan sastra yang tercipta oleh pengalaman panjang, mimpi yang terkikis iklan dan perut keroncongan, serta obrolan ringan bersama kawan kawan seperjuangan, bahwa hidup kok bisa semenyenangkan ini untuk ditertawakan. Pondasi ini yang menurut saya menuntun ke arah apa itu demo online, sambat tweet, dan kritik netizen ke sebuah negar dimana brand pakaian dengan nama buang air besar pun bisa laku dijual. Jadi, mari kita lupakan apa yang dibawa Payung Teduh dengan melankolia nya atau versi saya, musik sore hari, lamunan panjang dengan segelas teh hangat dan foto gebetan yang tak kunjung didapatkan. Sepakat?

Isu besar dari album ini adalah kota Surabaya, mungkin banyak musisi yang mencoba menggunakan kota sebagai inspirasinya, tapi tidak sekelas, sejujur dan sepandai SILAMPUKAU. Jangan pakai kata sudut pandang sebagai pembelaan, itu hubungannya udah sama SDM, panjang nanti. Ketika isu miras lokal dan lokalisasi yang diangkat, tidak ada rasa untuk menertawakan, menjijikan, atau ke-ndeso-an yang tercermin melalui liriknya. Sederhana, tapi mengena. Bersahaja tanpa menggurui.
Kalau saya boleh bilang, ini adalah album yang komplit, kenapa begitu? Masalah sosial atau kalau boleh disebut urban, dalam tiap kota besar, hampir sama bagi manusia 25 tahun keatas penghuninya, asli maupun rantau dan kebetulan yang dikejar kebetulan sama juga bukan? Uang. Dan melalui objek tersebutlah banyak benturan masalah yang dipermasalahkan, kemudian bagi sebagian orang, layak diperdebatkan di box comment facebook.
Melalui kota Surabaya, SILAMPUKAU mengajak untuk bercermin, introspeksi, dan tertawa secukupnya mengenai hidup, setelah itu dihajar kembali olehnya, karena memang seperti itu roda nya berputar. Dan belum dihitung juga kalau dijalan tiba tiba ban nya bocor. Ponsel mati, duit tinggal 2000, pas ditanjakan, mau turun tidak ada tambal ban, mau naik kok kejauhan. Lyfe.

Kembali ke SILAMPUKAU dan Surabaya. Wujud cinta mereka terhadap kotanya dilagukan dengan sebegitu megahnya, bukan asal mencari perhatian scene lokal, dan terbukti itu membuat scene indonesia dengan tangan terbuka menyambut mereka sebesarnya. Mungkin menjadi pelajaran, bahwa menceritakan miras lokal atau lokalisasi lokal tidak perlu hura hura apalagi tambahan congkak dengan beat hiphop digging yang pas pas an cenderung norak dan riff yang dipaksakan biar punya alasan headbang. Karena saya yakin, pasti lebih rumit dari itu semua. Lebih membumi dari itu. Miras juga bisa dilihat dari kacamata penghidupan dan menghidupi untuk sebagian orang, yang kebetulan memang sangat “beruntung” dalam hutan kota urban. Dalam satu botol, ada berapa perut yang diberi makan? Dan ada berapa kepala yang perlu disekolahkan agar nanti tidak ikut jual miras tadi. Kurang mulia apa coba. Dalam hal ini memang hukumnya wajib bawa perasaan.

Yang paling bener bener menggelitik telinga saya adalah lagu yang berjudul Lagu Rantau. Jangan bicarakan jarak, bicarakan rumah saja. Dan definisikan rumah menurut kalian sendiri, lalu tambahkan alasan kalian meninggalkan rumah itu karena apa. Komposisi sempurna untuk tetap melanjutkan hidup. Lyfe bagian dua.

Saya benar benar jatuh cinta dengan album ini. Dengan alasan apapun, kalau sampai album ini tidak masuk beberapa daftar “Album Terbaik Indonesia”, maka memang ada yang salah dengan negara ini, dan Jokowi harus tanggung jawab.
Karena mungkin saja, ketika ada wisatawan lokal dan pengen mampir ke Surabaya, menanyakan ” Surabaya itu seperti apa?” Pemkot nya bisa gagah mengatakan, “Coba dengarkan album Dosa, Kota, dan Kenangan nya SILAMPUKAU, nak”. Karena saya bisa bilang, SILAMPUKAU adalah, Surabaya.

Oh iya, selamat tahun baru 2016. Semoga semua harapan, mimpi dan cita cita kalian tercapai dengan penuh berkah. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s