sebuah jeda diantara halaman terakhir buku yang kita baca.

Untuk Seruni,
Aku tahu engkau tidak membaca roman terakhir yang aku tulis untukmu. Aku memang menuliskan itu dengan waktu, bukan dengan darah. Tapi, sesusah itu kah memahami barisan kalimat?
Aku akan menuliskan nya lagi, atau mungkin sekedar memberitahumu, bagaimana caraku merindukanmu. Sederhana, seperti menungguimu selesai berdandan. Menemanimu mencoba sepatu yang aku belum bisa membelikannya untukmu, menertawai bagaimana bodohnya orang orang sekelilingku, mengagumi raut wajahmu di depan makanan lezat, atau menunggui waktu terbaik untuk menanyakan bagaimana harimu.
Sesederhana itu.
Aku yakin engkau paham, baca saja lebih pelan.

Langit.

P.s: aku ada di bangsal 8. Kamar no 9. Kamar depan selalu berisik. Penghuninya selalu teriak teriak sampai harus dirantai. Terakhir dia menggigit dokter Lyra sampai berdarah. Berhati hatilah kalau kesini. Oh ya.. Dan aku masih benci setiap diberi obat penenang itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s