Cerita Agni untuk Langit – Bagian 4

“Ayolah! Berikan alasan yang lebih pintar lagi! kamu tahu aku belum bisa mengerti dimana indahnya sebuah dialog horor romantis. Kenapa Senandung? Ah bukan bukan, kenapa masih Senandung? 3 tahun menuju 4 dan hanya satu perempuan itu bukan angka kecil. Kamu tahu itu. Oke, aku akui, aku juga bukan orang yang ahli dalam hal merah muda seperti ini, tapi paling tidak aku lebih baik dari kamu soal alasan untuk melanjutkan hidup. Dan yang paling menyebalkan dari semua itu, kamu datang kesini, merusak sabtu siang tenangku dengan satu masalah yang sama sejak setahun yang lalu. Ngit, pesakitan cinta manapun juga tahu dan lebih lebih setuju kalau kamu itu tolol! Ditambah lagi kamu itu hanya akan.. Hey! Denger gak sih yang aku omongin?!”
Di ruangan itu, Langit hanya menatap ke luar jendela tepat diatas meja kerja Agni. Lalu sesekali mengganti daftar lagu yang dihakimi sesuai paksa sebagai lagu yang diciptakan memang untuk kisah drama hidupnya. 2 tahun Langit mengenal Agni, dan selama itu Agni diangkat resmi sebagi orang yang paling layak menjadi tempat sampahnya. Pintar, waktu banyak, manajemen emosi yang buruk, jujur dan mempunyai satu kesamaan dengan Langit, dijauhi cupid secara terang terangan. Bagi Agni, cupid harusnya sudah masuk rehabilitasi, atau memang anak kecil yang bermain main dengan panah itu kurang pendidikan dan didikan orang tuanya, sehingga terjebak pergaulan bebas, dan merasa sudah pantas bermain senjata tajam berupa anak panah sejak masih memakai popok. Atau mungkin, cupid juga single? Umur berapa dia sekarang? Siapa yang tahu bukan?
Langit menoleh ke arah tempat sampahnya itu.. Ah jangan, kenapa menjadi terlalu kasar, kita sepakati untuk menyebut Agni sebagai sahabat saja.. Tidak, itu terdengar sangat renyah, dia pasti tidak suka. Kita sebut saja ‘teman diskusi’.
“Ni, gimana jualan bed cover mu? Lancar?” Agni menaikkan alisnya, membenarkan kacamatanya, lalu berdiri. Mengambil segelas susu coklat di atas meja kerjanya. “Dari semua yang aku omongin tadi, panjang lebar, marah marah, dan kamu cuma berkomentar dengan satu pertanyaan tentang gimana jualan bed cover ku. Ngit, kamu benar benar butuh liburan, yang panjang dan jauh dari kota busuk ini” Agni berlalu sambil menenggak sisa susu coklatnya, membuka pintu kamarnya yang setengah tertutup. “Aku mau ngambil susu lagi, kamu mau minum apa?” | “apa saja. asal hangat. Dan.. Aku boleh ngrokok disini?”
Mata mereka bertemu untuk kedua kalinya siang itu. Sorot mata itu masih sama. Bukan kosong, juga tidak sendu, hanya memberi gambaran lebih jelas, bahwa definisi cinta ternyata masih belum berubah, tetap, perih. “Iya. Ngrokok aja. Terserah. Asbaknya di laci ketiga, lalu bersihin lagi setelah selesai. Asal jangan mati atau bunuh diri disini. Aku sedang tidak suka ke pemakaman”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s