Cerita dari Senandung – Bagian 3

Bagian 3

Kedai kopi itu terlihat sepi seperti biasanya. Empat meja didepannya masih tertata rapi. presisi dan bersih. hanya ada satu pelanggan yang menikmati Americano dingin sambil mengimani tiap kepulan asap yang dikeluarkan dari mulutnya. Duduk membelakangi jalan, menatap kasar ke pintu kaca bertuliskan ‘Houdini Coffee Shop – you need coffee to cheating a life’ Lelaki itu mencoba mendefinisikan apa yang dituliskan tersebut, menarik kesimpulan sepihak. Bagi lelaki itu, tulisan tersebut adalah penegasan. Dituliskan karena hidup harus diakali, dan kopi adalah salah satu alat terbaiknya. Kemudian memaksa jaman untuk menciptakan istilah ‘coffee time’ sekedar pembelaan, atau memang perlawanan dari istilah ‘tea time’ sebagai produk urban sehat yang lebih dulu diciptakan oleh orang marketing. Walaupun pada akhirnya, beberapa orang benar benar mencuri waktu nya sendiri untuk sekedar menikmati secangkir kopi. Waktu seperti digerus tuntutan sosial yang jauh lebih rumit dibandingkan seduhan panas kopi pagi hari. Kopi hangat dinikmati sambil menyetir, berjalan terburu, tidak ada penghargaan, tidak ada hubungan mesra antara waktu dan pahit kopi nya. Manusia menjadi budak kecepatan dunia. Rotasi bumi sudah terlalu cepat, kenapa manusia terburu buru? Semua pikiran itu berputar dikepala si lelaki tersebut. Seperti pertanyaan tak terbalas jawaban. Seperti orang kurang kerjaan yang butuh sesuatu untuk dipikirkan, dan hanya bisa dihentikan oleh ingatan soal jam berapa sekarang. Jam favorit lelaki tersebut, jam dimana akan ada sesosok perempuan yang datang ke kedai kopi tersebut. Satu satu nya pemandangan terbaik tiap paginya.

Dibelakang terdengar suara kendaraan berhenti, suara heels itu merdu, ada beberapa ritmis indah alam yang diciptakan tidak sengaja oleh Tuhan, dan bagi si lelaki, salah satu nya adalah suara heels setelah pintu mobil ditutup tersebut. perempuan itu berjalan, anggun, tanpa dibuat buat. Sebagian wanita memang diciptakan untuk meniru gestur bidadari secara tidak sadar. Rambutnya dibiarkan jatuh, kacamatanya selalu pas dengan sepatu nya, baju kerjanya diatur untuk membuat lekukan tubuhnya layak pandang, tas nya terlihat berat, tangannya memeluk 3 gadget, 2 handphone besar, yang satu sedang ditiduri power bank berwarna pink, seperti dipilih untuk menunujukkan bahwa selalu ada dunia barbie di wanita se karir apapun.  perempuan itu berjalan, melewati si lelaki, wangi nya masih sama tiap hari. Sekilas mata mereka bertemu, dan dunia tidak sama lagi bagi si lelaki hari itu, 10 detik terbaik, dengan satu setengah detik paling terbaik. Si perempuan masuk ke kedai tersebut. Cinta sebatas meja kopi ternyata ada.

“Selamat pagi mbak Senandung, menu biasa?” sapa si pelayan bersambut senyum, pelanggan terbaik harus di layani sebaik matahari pagi. “eh, inget apa kataku kemarin, panggil nya mbak Kea saja. inget, K E A, dimengerti?” Senandung menjawab, duduk, sembari memberikan senyum balasan. “ah iya, maaf saya lupa. Hot Cappuccino lagi? atau menu lain, mbak Kea?” list menu itu disodorkan ke Senandung. “Kayaknya mau yang lain deh, Peppermint Mocca Caffe ada kan?” Mukanya dinaikkan,si pelayan dan Senandung bertemu mata. gestur bidadari itu keluar lagi. “oh.. iya, ada kok mbak. ada lagi? | “itu aja. nanti kalau pengen cake nya, tak panggil lagi deh. cepetan ya.. haus nih” Senyum penutup itu keluar. “Siap mbak. Pepermint Mocca Caffe satu, cake nya nanti nyusul, estimasi waktunya, ehm.. 5 menit” | “yap. makasih ya” senyum itu keluar lagi, seperti tip yang paling ditunggu oleh si pelayan. Kadang ada sesuatu yang lebih berharga didunia selain uang, dan senyum pagi Senandung adalah salah satunya. Untuk sekedar informasi, diatas friendzone, masih ada Pelayan-pelanggan-cantik zone.

Senandung Kea Sinatra. Begitu nama lengkapnya. Bukan, dia bukan keturunan dari Frank Sinatra, nama belakang tersebut diberikan oleh Ibunya sebagai bukti resmi bahwa mempunyai idola bukan hal haram dilakukan. Hidup Kea adalah objek yang paling di jadikan alasan iri tiap wanita, dia tidak sadar kalau dia cantik, namun itu justru yang membuat dia layak di gila gilai. Dia tidak mempunyai tubuh model, tapi dia tau cara jalan yang tepat, dia tahu sepatu apa yang tepat untuk medan apapun, dia tau bagaimana mencintai tubuhnya, dia tahu bagaimana menutup tiap lekukan tubuhnya dengan cara yang tepat. Kea adalah personifikasi buku ensiklopedia fashion dengan cover teddy bear sedang membaca soal strategi PR. Kea adalah pemimpin divisi Public Relation di sebuah perusahaan penyedia jasa telekomunikasi. Menjadi bagian dari generasi Kartini yang mendefinisikan apa itu karir dimata perempuan. Perempuan yang katanya menolak bahwa menjadi ibu rumah tangga adalah kodrat wajib.

Kea duduk, handphone dinyalakan. Baterai itu terisi penuh. bebunyian mulai keluar, email email itu masuk. menunggu untuk dibaca, disortir dan dikirim ulang. Tangannya lincah, seperti wanita sekarang kebanyakan, dilatih oleh jaman digital, bukan alat dapur, tapi layar dan tombol handphone. Semuanya selesai dalam hitungan detik. Tangannya berhenti. Kopi nya datang. “Pepermint Mocca Caffe nya mbak…” Kopi itu diletakkan disamping handphone Kea, dengan satu alasan, posisi terbaik bagi si pelayan untuk menengok matanya dari depan, berharap mata itu bertemu dengan ekspetasinya. “makasih ya..” Kea dan senyum mata nya menjawab.  jackpot. Pelayan-pelanggan-cantik-dengan-senyum-menawan zone resmi diciptakan.

Layar handphone itu kembali di imani. Daftar kontaknya dilihat dengan seksama, diketik huruf ‘L’ , matanya berbinar, senyumnya mengembang. nama itu masih ada di handphone nya, dan Kea yakin sekali, nomer ini masih aktif dipakai oleh yang bersangkutan. Dia hafal betul siapa sosok ini. Dan dia satu satunya lelaki yang diijinkan untuk memanggil dirinya, Senandung, bukan Kea. SMS itu diketik, “Hai. bucket list kita soal makan di steak house deket rumah sambil ber drama ria itu, masih ingat kan? jemput aku besok malam jam 7. bisa? apa kabar nya disimpen buat obrolan saat makan aja ya ^.^” tombol ‘Send’ itu ditekan, ditujukan ke kontak bernama, Langit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s