Cerita dari Langit – Bagian 1

Bagian 1

Ada sebegitu banyak kombinasi gen yang masuk golongan tidak wajar, terdengar dipaksakan, atau malah memang sengaja dibuat agar bisa masuk koran lokal, ya bisa juga seperti memberikan pelajaran seumur hidup tanpa ada ujian lulusnya kepada keturunannya, dan percayalah, perkawinan dua ras yang berbeda sekarang menjadi hal yang sebegitu arus utamanya. Hal itu yang mendasari pertanyaan besar seorang Langit Senja Mangkuwijaya selama 26 tahun hidupnya yang biasa biasa saja. Pertanyaan megah dalam jagad pergulatan hidup semacam: “Aku mau apa?” , “kok bisa?” “tujuannya apa?” “biar apa?” atau sebuah sentuhan kecil berupa “kenapa?” pada setiap gerakan di lingkaran sosialnya, semacam kutukan tak berujung untuk mempertanyakan semuanya. Keadaan untuk dipaksa berpikir dengan volume 2 kali lipat rata rata pemuda seperempat abad. Dan yang paling menakjubkan adalah, kenyataan bahwa tidak semua hal yang dipikirkan itu memasuki golongan layak pikir. Kutukan itu ada. Maka bila sosok kambing hitam itu harus dihadirkan dan memang diperlukan, se-tidak-pantasnya disematkan kepada dua orang beda wilayah main. Seorang perempuan hippies dan satu ustadz muda saat memutuskan untuk menikah. Ta’aruf dan ‘coba dulu aja yuk’ itu memang benar benar beda tipis.

Oh santai, tenang saja. Langit bukan karakter manusia umumnya. Dia tidak umum. Dia memaksa menjadi tidak umum. Karena dia malu dengan Tuhan kalau jadi pasaran di karakter sebuah cerita rancangan Tuhan-nya. Dia tidak bekerja di agency periklanan seperti layaknya tuntutan urban dan atas nama update informasi. Dia juga tidak menjadi pengacara apalagi notaris. Dia tidak suka bau pengadilan katanya. Dia bukan pekerja TV, karena dia tidak suka melihat sebuah objek yang terlalu banyak iklannya, 24 jam sehari.  Dia tidak bekerja di bank, karena dia tahu diri, dia tidak bersahabat dengan angka. Dia tidak bekerja di bagian sales marketing, karena itu seperti menghina dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia menjual produk, sementara ia belum bisa menjual dirinya sendiri untuk wanita idamannya? sudah diskon pula. Dia juga bukan insinyur. Dia terlalu mencintai alam katanya. Dia juga bukan seorang arsitek, karena bagi dia, rumah terbaik adalah tempat dimana Ibunya berada. Dia hanya bekerja di sebuah penerbitan. 8 jam sehari. Gaji sebesar CEO kelas teri. Tunjangan sebanyak keadilan negeri ini. Mendapat kecepatan internet yang hanya bisa disanggah dengan komentar semacam: “Sudahlah, disyukuri.. pelosok Temanggung sana masih ada yang belum bisa buka facebook makai PC”. Kalau menjadi editor buku bisa semenyenangkan itu, bagaimana rasanya menjadi orang terlahir kaya raya, anak pertama, tidak boleh bekerja, hanya boleh foya foya dan dijanjikan tetap masuk surga, bagaimana rasanya coba.

Dan diatas semua kemewahan itu, masih tersimpan sebuah kebanggaan besar bahwa Langit tidak perlu terjebak dalam cubical room yang seragam, Langit mendapatkan meja. Iya, sebuah meja. saja. Dan kursi. saja. Seperti meja kantin. Warna putih. mempunyai 3 rak dibagian kirinya, tingginya pas. Seperti memang diciptakan untuk ditempati alat ketik digital tersebut. Itu belum seberapa, ketika setiap karyawan berlomba lomba mendapatkan perhatian atasan, menjilat kanan kiri, Langit tidak perlu itu. Dia mendapatkan seluruh perhatian atasannya. Langit ada di meja paling strategis, langsung menghadap meja atasannya. All eyes on. Nikmat mana lagi yang akan didustakan? Langit Senja punya segalanya untuk kenaikan gaji dan taraf hidup secepat cahaya. Langit siap menjadi bujangan terkaya di kota. Diperebutkan wanita. Diancam diperkosa.

Di tempat kerja penuh bahagianya, Langit duduk. Memandangi layar kecil telepon genggamnya, fokus penuh. mencoba mengartikan setiap baris kata dan kalimat yang terkirim ke ponselnya. Menerapkan 5 bulan kemampuannya mengoreksi sebuah tulisan. Membaca nya berkali kali. Mengulanginya lagi. Kerutan didahinya tidak membantu sama sekali. Dia mulai yakin, ini adalah salah satu hal yang akan merusak satu hari tenangnya. Ponsel itu kembali diimani, hikmat. Satu tombol ditekan, lama. Speed dial. Seperti memang dipersiapkan sebagai media untuk mengganggu hidup orang lain suatu hari nanti. Tidak ada salam basa basi, atau tata krama menelepon, lancar mulut Langit: “Ni, Senandung ngajak ketemuan, aku harus gimana?”

 

 

 

Advertisements

2 comments

  1. gustihasta · August 2, 2013

    ndak iki kowe mas?

    • IvanRuly · August 2, 2013

      Hahahahahaha.. Tulisanku kih. Bedo yo? Jenenge ae cerita bersambung. :)))) mosok yo semrawut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s