T E N T A N G E K S P E K T A S I

Selamat Pagi

Kali ni saya mau nulis serius ah, Mengingat kemarin saya dihujat karena meme Taeyeon buatan saya dianggap mencoreng nama Kpop secara syariah dan akidah. Maka, mari kita sedikit membicarakan film (lagi) yang baru saja saya tonton untuk yang ke… 4 kalinya sejak saya tahu film itu dibuat. Tapi sebelumnya, biarkan dulu saya memberikan peringatan bahwasanya, ini murni mengenai apa yang disebut sebagai “pelajaran”, sedikit rasa depresi, ketakutan, dan dengan balutan harapan: “semoga saya bisa menjadi seorang ayah yang hebat”. Oh iya, satu lagi, ini bukan review. Saya gak ngerti film. Bagaimana saya bisa dianggap mudeng film, kalau saya masih merasa The Expendables layak ditonton dibandingkan stand up comedy. ya kan? 

Baik, film itu berjudul “Everybody’s Fine”. Dibintangi oleh (ciellah bahasanya.. kaku bener van, kek abis liat Ameri Ichinose nyuci motor deh) Robert De Niro, dan beberapa nama yang tidak bisa saya sebutkan (kecuali kate Beckinsale) dikarenakan masalah personal serta alasan bahwa hanya orang bodoh yang bisa menolak tatapan mata mbak Kate ini, hahahaha..

cerita film ini sih… ya gitu.. hahahaha.. piye to kih… gitu lah pokoknya. About become a father. lebih jelasnya, kayaknya kalian mesti nonton sih. yaudah, itu aja sih..

selamat nonton… mleikum..

 

HAHAHAHAHAHAHAHHAHAHA…

Oke, serius. ehem.. Yang pertama ada di pikiran saya ketika melihat film ini adalah mengenai ekspetasi orang tua. Yang kedua adalah mengenai komunikasi kepada anaknya. Yang ketiga adalah kenyataan bahwa saya gak suka film drama yang bagus, karena saya kesulitan nahan nangis (well said vro.. 😀 ) Silahkan kalau saya mau disebut cengeng, lemah atau papun yang dikoordinir oleh perasaan remeh temeh air mata, namun bagi saya, bila ada sesuatu yang melibatkan “jasa orang tua kepada anaknya”, eh salah, diganti dengan “cinta orang tua kepada anaknya” saya pasti langsung… meleleh. (cant find better word :)) hehehe)

Setelah melihat film itu, saya mulai merasa bahwa tanggung jawab terbesar dari laki laki adalah mengenai keluarganya. Dedikasi. Never ending protection. and become a good listener. Karena film itu juga, saya makin pengen banget punya anak perempuan. Karena saya yakin anak perempuan saya akan secantik ibunya. Pasti mukanya kayak Taeyeon. kan istri saya Taeyeon (sekali lagi maaf, tapi biarkan saya tenggelam dalam harapan semu memperistri leadernya SNSD. tolong jangan protes, mengingat ini adalah ‘harapan semu’ kenapa gak tinggi sekalian? itulah kenapa harus Taeyeon, bukan yang lain, bukan juga kamu dek.. ah sudahlah.. *nutup jendelo* )

Lalu apa yang begitu spesial dari dirnya sehingga saya bisa tahan diperlakukan seperti itu dan masih tetap jatuh cinta sampai selama ini padahal dia udah ganti pacar 2 kali dari jurusan kuliah yang sama… aduh, itu salah kalimat, my bad, gloomy sih cuacanya kayak lagunya Sheila Nicholls :)) . Saya ralat, kalimat yang tepat harusnya: Lalu apa yang spesial dari film tempo lambat dengan lebih banyak scene ke satu orang saja tanpa adegan ranjang dan nyebur kolam renang? kita jabarkan saja dengan sudut pandang negatif dan positif.

oke, dimulai dari yang positif. Yang spesial dari film ini karena ada kenyataan besar tak tersentuh bahkan mungkin sering dihindari untuk diakui. Kenyataan bahwa seorang anak, sebangsat apapun, sebaik apapun, sekaya apapun, semiskin apapun selalu ingin menjadi kebanggaan dari orang tuanya. Demikian dengan orang tuanya, kadang ingin memenuhi ego untuk menaruh bayangan ideal tentang kehidupan yang benar menurut si orang tua kepada sang anaknya. Jangan mikir jelek dulu, saya sepakat bahwa orang tua kita lebih pintar, mereka yang lebih tahu. yang menjadi persoalan adalah ketika penyampaian sistem ideal itu sering berotasi, berubah dan mengikuti jaman. disitu mungkin kenapa komunikasi menjadi hal layak pakai sampai mati. Ya paling tidak bisa menjadi excuse untuk semua masalah yang ada, contoh.. “ini cuma masalah miss komunikasi.. kamu gak ngerti.. aku tahu kamu suka sama aku, tahu.. tapi aku gak tertarik pacaran sama kamu.. tapi kamu selalu ada di hati aku.. kamu bisa ngerti itu kan?” #manYoureFuckedUp

hahahahahaha.. apasihh.. (///_-)

Saya sih pengen memakai contoh orang lain sebagai bahan, namun saya gak mudeng mudeng amat, jadi biar saya saja yang menjadi contoh kasusnya. Bagi saya, memenuhi ekspetasi orang tua itu seperti menjadi kewajiban, saya tidak tahu lagi bagaimana cara membalas budi orang tua saya. sekalipun pada akhirnya, budi mereka tidak akan mungkin bisa terbalas, karena saking besarnya. Saya dihidupi selama 24 tahun, dianugerahi keluarga yang multi ajaran, agama, dan sudut pandang dari klenik sampai virtual. Kadang itu yang membuat pikiran saya campur aduk, seperti misal, “kalau masih jatuh cinta ke perempuan yang sama setelah 2 tahun itu ndak haram ya di islam? terus kalau di dunia perdukunan, apakah menyalahi aturan pelet secara universal? kalau dari segi kemanusiaan, apakah mungkin ini berpengaruh ke lingkaran sosial di Semarang? atau jangan jangan dari segi kesehatan, ini mempengaruhi sistem pecernaan? hahahahaha… jadi kemana mana ya.. -___-

intinya sih, saya (dan mungkin beberapa anak diluar sana), ada di posisi dimana saya belum bisa memenuhi ekspetasi orang tua saya, manusia dilahirkan untuk tidak pernah puas kan ya.. sekalipun mungkin, bagi orang tua saya, bisa melepas anak pertamanya untuk nyari duit di kota lain berjarak 2 jam dari rumah itu lebih dari cukup. perkara poin plus lainnya, itu namanya bonus tambahan. Hanya saja, yang namanya anak kan ya.. ya gitu.. Hanya saja, paling tidak, selama masih diberi kesempatan untuk mencoba memenuhi ekspetasi tersebut, kenapa tidak? in the end, family first right? 😀

saya pengen ngajak sekeluarga liburan.. nginep 3 hari saja. kemanaaa kek, yang tropis. bisa makai kacamata hiam, Biar orang tua saya bisa sejenak istirahat, dan… paling tidak, mereka merasakan secara nyata, bahwa mereka membesarkan anak dengan cara yang benar. Semoga rejekinya ada ya.. aminnnn.

 

 

Oh iya, masih ada satu lagi ya.. secara negatif.. film ini.. gak ada negatifnya kok. tonton aja.. Tapi Kate Beckinsale kerja di periklanan. kenapa selalu periklanan ya? di banyak film pasti kerja di iklan. mentok pengacara. gak ada yang jualan vinyl, punya distro atau anak band, atau blogger gitu. pasti cool job nya periklanan. pasti itu deh.. gak film lokal atau film luar pasti itu pekerjaannya. gak ada yang jadi komikus, tukang gambar tembok atau apa kek, punya toko gitar kek, jualan drum kek, punya toko vintage kek, punya les les an musik kek, atau session player recording kek, atau apa aja lah.. 

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s