Mengenai, P E R N I K A H A N.

Selamat siang,

Ini adalah rangkuman semua obrolan, debat terbuka di sela makan siang hingga menuju makan malam, pengalaman orang (both good or bad), renungan sepanjang jalan pulang kantor (ciieeee..) dan apa yang berani saya sebut jawaban atas istilah quarter life crisis bernama, pernikahan. #dengdeng Sekaligus ini menjadi tulisan pertama tanpa garis bawah kata deadline content (sekali lagi, cieeeee..) Ini juga menjadi tulisan pertama setelah sekian lama, akhirnya saya kembali, dipilihkan untuk menjadi warga Semarang lagi. Memakai pc rumah kontrakan @SeputarCB31 yang kadang hanya ramai saat weekend saja.

Ini juga merupakan draft lama di pikiran saya yang belum sempat saya tulis asal asalan di blog ini, namun semuanya tiba tiba perlu dimuntahkan (halah) setelah ada sedikit obrolan pancingan dari kawan yang bekerja di salah satu jasa asuransi dan seorang mahasiswa komunikasi yang sedang cuti karena skripsi. Tiba tiba semangat saya tumbuh untuk membagi pikiran yang sering disebut skeptic oleh beberapa banyak orang, saya benci dibilang skeptic. Saya itu penggemar K-pop! Bukan orang skeptic! Kurang jelas dimana pernyataan itu? -__-

Dan untuk ukuran sebuah alinea pembuka, saya cukup yakin ini terlalu panjang. Tapi apa daya, gebetan sudah berpulang ke hati atlet futsal, kontrak sudah ditandatangani, teman teman sudah memilih menjadi single, maka, saya memang harus menulis dengan sangat lebih berlebih demi mengembalikan fitrah menulis kebentuk ter-bahagianya. Dengan pendek kalimatnya, Kim Taeyeon and fuck the world (cieeee… nyambung gak nyambung yang penting SONE sampai mati!! Hahaha..)

Baik,kita mulai saja sekte pembeberan satu sudut pandang dari lelaki yang bahkan mendapatkan hati adik angkatannya pun gagal total, namun dengan berani membicarakan sesuatu yang paling sacral bernama pernikahan.

Kita awali dari dua kalimat yang saya temukan di jam jam sebelum tidur saya: “Pernikahan butuh kesepakatan secara maksimal dari kedua pihak. Seks saja harus membuat puas, baik lelaki dan perempuannya, kenapa pernikahan tidak?” ada beberapa kasus (kalau boleh saya sebut seperti itu, dan jangan dibuat masalah, apalagi dibahas, namanya juga tulisan lebay cui) yang kebetulan saya saksikan secara kasat mata dan hati. Saya selalu menyuruh beberapa teman saya yang kebetulan berjenis kelamin wanita, dan kebetulan juga sudah cukup berumur untuk mengandung anak pertamanya, untuk paling tidak memeriksa kandungan nya. Sekedar jaga jaga demi kelancaran pembuahan dan memperpanjang garis keturunan imutnya. Ini bukan hal yang aneh kan? Saya orangnya perhatian. Cuma kurang beruntung saja dalam cinta. Kembali lagi, Mengingat kesehatan rahim adalah hal penting. Bukan berarti saya mengatakan bahwa factor pendorong timbulnya pernikahan hanya dipengaruhi oleh keinginan mempunyai momongan, tapi paling tidak, itu menjadi salah satu faktornya.

…Dan seketika saya merasa tulisan ini terlalu berat.. ah, undangan sudah disebar, apa daya, harapan hampa, ini harus diselesaikan…

Kadang saya agak gimana gitu bila mendengar beberapa wanita mengatakan dan cenderung memaksa pasangannya untuk melangsungkan pernikahan dengan sebuah alasan, “Seru tauk jadi ibu muda..” sekali lagi, saya tidak dalam posisi memojokkan jenis kelamin favorit saya bernama perempuan, ini hanya menjabarkan sebuah kasus yang kadang saya temui secara blak blak an tanpa ada bantuan perlawanan (halah) maksudnya, cmon girl (cieee..) pernikahan tidak semudah itu juga kali.. -___-

Saya bukan orang yang setuju untuk tidak menikah. Saya ingin sekali menikah, memberi nama anak saya Sinatra atau Langit, atau Sky. Menghabiskan sore hari saya sambil memutarkan lagunya Gaslight Anthem ke anak saya yang masih TK, mengajarinya untuk membaca ebook, atau sekedar mengingatkan bahwa dulu ada idol grup cantik luar dalam dari Korea Selatan bernama So Nyuh Shi Dae, SNSD, Girls Generation yang membuat ayahnya suwung hati dan pikiran. Saya ingin seperti itu. Atau sekedar memberikan istri saya satu set alat masak kualitas masterchef lengkap dengan cincin berlian yang diselipkan didalam panci barunya. Saya ingin menjadi suami seperti itu. Apalagi membawa anak anak saya nanti mengaji yang mana gurunya adalah kakeknya sendiri, karena ayahnya gak pinter pinter amat mengaji. Mengijinkan anak saya nanti bila ingin jadi penggemar JKT48 (bukan penggemar SNSD) generasi kesekian, dengan syarat jangan sampai keliatan di Tv kalau lagi nge chant, in case neneknya nanya nanya kenapa sering banget cucunya muncul di Tv, karena ayahnya akan sulit sekali menjelaskannya. Saya ingin menjadi ayah seperti itu. Atau mengijinkan, memberi restu, dan membiayai bila anak saya nanti memilih Berkeley sebagai tempat kuliahnya dengan jurusan Movie Scoring. Saya pasti ijinkan. Atau sekedar mengajak istri saya nanti pergi berdua selama 4 hari saja, menikmati pulau idamannya di Indonesia. Saya akan memberikan layanan full service, kalau perlu, saya pakai tenaga dalam. Kalimat pendeknya, Saya juga ingin menikah dan beranak pinak. Menjadi rockin family man. Yeahhh. Hahahaha.. :p

Kembali ke pernyataan menyoal menikah tidak semudah ctrl+s tersebut, ada beberapa isu social (gilakk.. hahaha) yang kadang menjadi begitu lucu sekaligus tanpa etika logika menggerogoti entitas murni sebuah perasaan bernama cinta (HUAHAHAHAHAHA.. apa sih) terlalu bayak hal remeh temeh yang silahkan akan dijadikan patokan atau tidak, kadang membumbui gagal tidaknya sebuah ritual pernikahan. Dari jawaban menteri agama yang kurang bisa diterima soal birokrasi KUA dan agama pasangannya hingga masalah vital seperti harta, tahta dan terminology kemapanan. Atau bisa sampai taraf lebih personal seperti restu keluarga. Terlalu banyak kompleksitas yang membumbui sebuah rencana pernikahan (itu hak kalian bila ingin menyebut nya sebagai tantangan) namun ini sekali lagi menjelaskan bahwa pernikahan tak segampang main PES.

Saya sebagai seorang kaum lelaki, melihat ini dari sudut pandang yang sederhana, ada perut lain yang harus diberi makan setelah itu, ada tanggung jawab moral ketika anak saya nanti tidak mendapat pendidikan yang layak atau sekedar alat mengetiknya seperti laptop dan PC rumah, ada cicilan rumah yang harus dibayar, menjelaskan soal seks, menjadi teman curhatnya ketika dia dilanda patah hati pertamanya, atau memikirkan kendaraan antar jemput keluarga dan istri cantik yang harus dibahagiakan sampai akhir hayat. Laki laki dinilai dari dua hal, tanggung jawabnya dan cintanya terhadap keluarga. Sepanjang itu. Ya benar juga, seorang istri yang sesuai standar agama dan cinta, pasti akan membantu luar dalam sebuah masalah atau misi keluarga, saya yakin itu, namun hanya saja, ini kembali ke masalah tanggung jawab sebagai lelaki, ayah, suami dan kepala keluarga. (saya mulai merasa sangat menyebalkan) karena tidak jarang ada beberapa keluarga yang seketika runtuh saat kepala keluarganya masih belum bisa menjalankan peran vitalnya.

Pernikahan bukan hanya sekedar, “Oke, nikah yuk.. bisa bisa..” saya rasa itu kurang pantas disebut sebagai tindakan spontan sekaligus mulia. Setiap perempuan mempunyai pandangan idealnya mengenai keluarga yang bahagia, percayalah, kaum lelaki juga seperti itu. Saya (belum berani bilang kami) juga mempunyai gambaran ideal juga. Sama atau tidaknya, bisa dibicarakan ketika proses pengenalan yang biasa atau silahkan disebut pacaran, dilakukan. Ini menjelaskan kalimat pembuka tadi, bahwa pernikahan itu butuh kesepakatan maksimal semaksimalnya dan dari kedua belah pihak.

Saya tidak terlalu mengerti isu feminism, atau sebuah semangat independent woman yang digagas dalam EP terakhirnya Miss A, namun demi nama seluruh wanita didunia termasuk calon anak permpuan saya, dan calon istri saya nanti yang sekarang entah dimana, atau memang benar benar Kim Taeyeon yang lucu itu (siapa tahu kan ya), tapi dalam hal ini, saya dan entah siapa pun lelaki yang punya bayangan ideal keluarga sederhana kecukupan tanpa perlu melihat anak dan istrinya menderita karena tuntutan jaman, merasa bahwa ada hal hal lain yang perlu di selesaikan juga dipastikan lebih dahulu, daripada sekedar tuntutan segera menikah karena bayangan ideal satu pihak.

Tapi ya.. katakanlah seperti ini, pasangannya sudah mapan lahir batin, dompet, garasi, atap, sehat reproduksi, tenaga kuda, restu keluarga dan negara, 18 tahun pun bisa jadi langsung menikah bukan?

Sudah ah, segitu saja.. kaalu gak setuju, bales tulisan saja. Jangan ngomongin dibelakang atau ngatain saya skeptic! Saya ini anak K-Pop! Bukan skeptic! Hufft!

Ivan Ruly, calon suami, kepala keluarga, dan ayah yang luar biasa, undur diri.

Mleikum! 😀

Advertisements

3 comments

  1. gustihasta · March 22, 2013

    kasih aja mahar seperangkat alat ibadah tanggung jawab dunia akherat 😀

  2. mas kartun · March 23, 2013

    kamu bukan skeptik yank,,,tapi patetik.. huahahahaha

    • IvanRuly · April 1, 2013

      Dek Gus, Mas Tun, yongonolah.. :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s