Proudly SONE !

*strecing*

 

Sone

Selamat siang menjelang sore,

ini adalah bulan bulan dimana Temanggung berwajah meriang, sendirian. Pucat tapi punya kekuatan kosmik postrock yang kuat. #halah Namun karena postrock dan kawan kawannya sekarang hanya dijadikan untuk alat penarik pertanyaan: “Kamu kenapa kok nunduk terus? aku chin up in kamu ya” dan juga karena saya baru saja mendapatkan Handwritten – nya Gaslight Anthem (telat beud ye) maka, dengan ini saya putuskan untuk membiarkan determinasi sound gitar New jersey dan lirik Springsteen memperkosa hati nurani dan kenangan saya sekaligus berfungsi sebagai pondasi tulisan ini dibuat.. <— gilak! bahasanya! *sisiran*

Ok, here we go..

Saya baru saja menemukan sebuah tulisan tentang K-Pop dengan kadar bagus mendekati sempurna, penulisnya bernama akang John Seabrook, di situs newyorker (harusnya sih dikasih link, tapi insert link button kok ilang ya, koneksi internet saya jeblok, hahhaha) Judul tulisannya: “FACTORY GIRLS, Cultural technology and the making of K-pop” lengkap dengan gambar pancingannya berupa 9 cewek paling bohay seantero galaksi bernama SNSD. sekali lagi, S.N.S.D !!! πŸ˜€

tiba tiba saya ingin membahas tulisan tersebut karena beberapa hal sebulan kebelakang ini. SM Town Jakarta, skeptikal line, Tuhan yang mulai punya akun twitter, dan tentang menjadi seorang.. fans. (kok saya mrinding ya saat ngetik kata fans ini. hahaha)

Terlalu banyak yang harus dikutip kalau misal tulisan itu dibahas secara dalam, karena itu tentang sejarah K-Pop sendiri. bukan melulu tentang hype nya Gangnam Style atau karbitan menyoal paha bagus dari idol grup. lagian, ngapain juga dibahas dalam2.. -__- lha wong tulisannya udah jelas njlentrek resik njobo njero dari drama, program hallyu pemerintahnya, operasi plastik, komposer, tekhnis panggung, kesempatan masuk hollywood, tradisi, saingan perusahaan, sejarah berdiri, campur tangan negara, kepolosan fanboy nya bahkan data jumlah debutan baru idol group per tahun nya. in simple way. just, PERFECT!! ngomper ke jurnalis musik indonesia saat bahas k-pop sih juga gak baik, kan beda koneksi -__- si John ini bisa ketemu Jessica dan Tiffany di ruang ganti kostum og gan.. tambah lagi, dalam tulisan ini gak akan ditemui pertanyaan jurnalis macam, “kenapa nama nya SNSD? Kok gak SLTP atau STMJ sih? #yakalik

Jadi, saya akan bahas ini dari sudut fanboy secara umum dan SONE secara khusus.. cieehh..

Oke berikut adalah kutipan dari page pertamanya, sebuah wawancara singkat kenapa fans Weezer berumur 29 thn bernama Jon Toth tiba tiba mendalami Korea Selatan, ber-akun Soshified dan menghadiri SM Town Concert:

kutipan satu: “You think you love them, but then you see Tiffany point directly at you and wink, and everything else that exists in the world just disappears,” Toth wrote on Soshified, a Girls’ fan site. “You think you love them, but then you see Sooyoung look you dead in the eye and say in English, ‘Thank you for coming.’ ” Toth concluded, “I might not know how much I love these girls.”

pure, silly, but honest, typical SONE. paling tidak itulah yang saya dan Toth ini rasakan. karena seperti yang dibilang Toth, everything else that exists in the world just disappears when you see SNSD smile at you.. itu adalah set poin paling absurd yang pernah saya alami, moodbooster baru. siapa yang butuh alkohol coba? hahaha… :). Dulu ada sebuah obrolan dimana menghasilkan sebuah kesimpulan epic bahwa mereka yang terjebak pun bergelut dengan kesendirian (saya menghindari kata: jomblo, sounds.. yuck!) hanya mempunyai beberapa pelarian, yaitu, idol group (both K or J) dan olahraga. Namun seiring kemrosotan lebih dalam ke dalam jurang Korean ini, saya mah hampir kurang percaya lagi dengan kesimpulan itu, toh banyak yang mengabdi ke K-Pop pun beralur cinta mulus dan ajeg kek busway kok. Ganti turun muatan broh. Jadi kayaknya juga gak ada hubungannya. All Korean stuff ini mempunyai efek yang sudah di plot sih kayaknya. Dan emang harus digilai seperti itu. Kalau gak gila, bukan K-Pop namanya. Sama saja dengan aliran buatan media lainnya. Contoh saja sih, se suka sukanya saya sama Gaslight Anthem, saya gak akan gitu ngoleksi foto Brian Fallon sampe ratusan, ngejadiin wallpaper hp, nyari video interviewnya, ngapalin menit dan detik saat si Fallon ini ngedip, atau coba komparasi antara forum fans nya Arcade Fire dengan BIG BANG, gak akn ditemukan fanart atau potongan suara si vokalisnya Arcade dijadiin ringtone. Lalu ketika sebuah tweet dari salah satu drummer punk berkicau seperti ini: “ketika perempuan luar sana memuja boyband kpop, disini perempuannya melakukan penyelamatan hutan mangrove” -____- gak salah juga, tapi beda alam atuh bli..

kutipan dua: “Girls’ Generation is a group of preppy-looking young women in skinny trousers. When they wear hot pants, it’s to display the gams, not the glutes”

Duh ini agak sensitive, juga agak lebei sih untuk beberapa orang, toh pun pernah saya tuliskan setahun yang lalu kayaknya. Semesum mesumnya saya, saya jadi posesif gitu kalau yang dikomentari soal SNSD hanya menyangkut paha mereka. Agak gimana gitu. Okay, face it, they’re hot to the bone! Tapi  ya.. gitu. Mbok ya jangan gitu gitu banget. Saya sih hanya sebatas fans saja, tetapi beberapa hal kadang tidak bisa dijelaskan, butuh dialami. Yah anggap saja ini: you wont understand part 1. Aman lah.. hahaha. πŸ˜€ atau untuk lebih jelasnya kenapa bagian kesopanan menjadi hal yang masih dijunjung tinggi di Korea Selatan adalah kutipan berikut:

Kutipan ketiga: “Once the idols were seated, a woman appeared with a stack of white gym towels. She gave one to each of the female idols, who arranged it atop her exposed thighs, as a makeshift modesty panel. I sat opposite Sooyoung, of Girls’ Generation, a willowy brunette. She seemed distant and frosty, like a figurine in a glass case.”

I bet you smart enough to understand that part and what I mean. Don’t you? πŸ˜€

 

Kutipan keempat: “They take the love the fans feel for them, and they return it to the fans,” Toth told me. “When you see them onstage, it’s like they’ve come to see you.”

Seabrook: “I must have looked skeptical.”

“Just wait,” he (Toth) said. “You’ll see.”

Bersambung kutipan kelima: “I was watching the show from beside the stage when the nine members of Girls’ Generation came out, in bluejeans and white T-shirts, to perform “Gee.” The whole place shouted the hook: “Geegeegeegeebabybaby.” Whenever a song ended, the Girls deployed around the stage. At one point, Sooyoung came to where I was standing and began frantically winking and waving her way through the crowd, wearing a blissful smile and shaking her glossy hair. She was no longer the cold idol I had encountered in the press room but a super cheerleader. It was just as Jon Toth had said it would be: the Girls had come to see us”

 

Itu yang saya maksud!! Itulah bagian dimana seorang fanboy seakan diajak untuk berkomunikasi oleh idolanya. Sebuah situasi kramat. Tidak ada yang lebih terlihat mengesankan selain dihargai oleh grup idolanya. Diketahui ada dan bangga menjadi bagian darinya. Dan itu yang saya maksud dengan “mengalami”. Ketika saya senyum senyum sendiri saat menonton variety show berisi SNSD, ketika di RCTI kemarin seorang Taeyeon melambaikan tangannya saat konfrensi pers, saya.. yang hanya melihat dari kontrakan lewat tv pun.. merinding. Bayangkan saja, lewat sebuah layar kaca saja bisa begitu, apalagi saat konser langsung. Terima atau tidak, tugas K-Pop adalah seperti itu, menjadikan “gila” Itu saja. πŸ˜€

Kalau masih kurang ngeh coba disimak bagian ini..

Kutipan keenam, semoga terakhir:  “When the Girls came out again, Jacobson (Interscope guy) watched them closely. “O.K., it’s all about humility,” he said. “Look how they bow to their fans. That’s a big part of it.” He started ticking off the Girls’ qualities on his fingers. “First, beauty. Second, graciousness and humility. Third, dancing. And fourth, vocal. Also, brevity. Nothing lasts more than three and a half minutes. Let’s time it.”

Lingkaran setan menjadi fans grup atau music tertentu selalu sama, dan akan mengalami perdebatan panjang yang sama pula. Fanswar adalah situasi wajar bila mengingat system buatan yang disuguhkan sebuah manajemen artis lengkap dengan kemasan mewahnya. Mereka menjual mimpi dan apa itu “ideal love for my life” dengan sangat, benar benar sangat bagus. Yang saya sebut lingkaran setan adalah seperti ini, ketika kalian mengatakan mencintai dan menikmati My Bloody Valentine, kalian pasti tahu dulu apa itu My Bloody Valentine, mendengarkan dulu, menyukai kemudian, baru kalian jatuh cinta se jatuh jatuhnya. Terus seperti itu untuk apapun band atau alirannya. Masa’ iya kurang sederhana? J 

Terakhir, silahkan kalau pada akhirnya tulisan ini terlalu dianggap berlebihan atau sebuah bentuk pembelaan dari saya mengenai segala hal gila tentang SNSD. Toh pada akhirnya selalu dikembalikan pada selera masing masing. Kalau masih kurang paham, ditutup dengan satu kalimat kesimpulan saja, To understand all those madness, you need to be SONE first. That’s all. πŸ™‚ 

SONE!!! FIGHTINGGG!!! >_<


eh iya, ini link dari tulisan lengkap Newyorker itu. Smartfren lagi baik. button link nya keluar. hahahahaha.. –>  Cultural Technology and The Making of K-Pop

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s