Untukmu Wahai Pendidikan.

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

Tuhan-bersama-mahasiswa-tingkat-akhir

Apa saat paling buruk menjadi manusia? Adalah saat dimana kalian tidak bisa menertawakan diri kalian sendiri.

Mungkin ini akan menjadi pembahasan yang berbau subjektifitas curhat lelaki biasa biasa saja tnpa cv luar biasa. Ah tapi itu lebih baik daripada saya membahas tentang kenapa Anang perlu teman duet, kenapa India Reynolds tidak mau menjadi istri saya dan ada apa dengan marga Nasution? Maka dengan pikiran yang sudah dibuka sebatang rokok eceran warung tetangga, saya akan lebih memilih untuk membicarakan apa yang menjadi keresahan para pemuda pemudi yang menganggap Sid Vicious itu panutannya, yang lebih memilih bernegoisasi dengan dirinya tentang kalimat: Your Life, Your Rules!, yang lebih memilih “Dunia dan Kebesarannya” sebagai ruangan kelasnya, yang memilih untuk praktek langsung, yang memilih bahwa ijasahnya lebih berguna diabndingkan mik mahal kepunyaan Syahrini, yang memilih percaya bahwa kulliah itu masih jaman,  sekaligus mereka yang ber keyakinan bahwa turun ke jalan itu sebuah pilihan, dan yang tidak terlalu peduli dengan embel embel 2 huruf atau lebih dibelakang namanya, yaitu: Pendidikan! Sekali lagi (biar lebih dramatis) PENDIDIKAN!

 

Oke, pertama, jujur (lagi) who the fuck is our ministry of education? I don’t even know his/her name? gendernya pun saya tidak tahu. Tidak terlalu penting juga sebenarnya. Tapi esensinya bukan itu, lebih seperti ini, saya penganut quote lawas ini: Tak Kenal Maka Tak Sayang. Yah seperti pengguna twitter yang mengenal luar dalam yang terhormat dan terlucu, bapak Tifatul Sembiring a.k.a tifani. Sama saja konsepnya, bagaimana kita mengaku ber pendidikan jika menteri pendidikan pun tidak tahu? (bukan patokan, tapi biar kelihatan lebih satir saja, huehehehe)

 

Kedua hitung berapa hari kalian sudah ber sekolah sejak pertama kali diantar ke taman kanak-kanak oleh orang tua kalian? (dibulatkan saja, lebih mudah, saya benci matematika) Saya pribadi bila, hari sabtu dan minggu dihitung sebagai hari membuat tugas dan belajar kelompok (beajar kelompok? damn! Istilah lawas) berikut penghitungannya, tk 2 tahun, sd 6 tahun, smp 3 tahun, sma 3 tahun, kuliah 5 tahun dan masih berjalan = 19 tahun! Sembilas belas tahun! Dan saya masih tidak mengerti kenapa matriks itu dipelajari, kenapa kita perlu dicekoki hal hal berbau kurikulum yang bahkan kita tidak mempunyai minat kearah itu?

Ketiga, ada 2 mata pelajaran yang saya sukai sejak SMP, pertama, Olahraga, kedua, Mata Pelajaran Kosong (baca: jam kosong). Kenapa olah raga? Ah jangan berpikir saya seorang atletis yang mengerti seluk beluk dunia olah raga sampai tahu berapa no sepatu zinedine zidane atau merk gear apa yang dipakai lance Armstrong. Saya juga tidak berjualan jersey sepakbola ori di kaskus, saya juga tidak mengerti beda jersey ori dengan kw super, saya juga tidak paham kenapa nurdin halid memasalahkan LPI, yang saya tahu, Indonesia punya stok koruptor yang banyak sekali, bahkan hingga aspek yang berhubungan dengan sportifitas. Lalu kenapa saya suka? Karena itu pelajaran lapangan. Dan yang namanya lapangan, pasti diluar. Jadi saya punya waktu untuk meninggalkan sekolah, disaat semua orang sibuk berganti pakaian dan saat yang terhormat pak guru sedang menunggu di lapangan tersebut. Momen tepat tidak boleh disiasiakan bukan? 😀

Kenapa saya suka dengan jam kosong saat sekolah? Siapa yang tidak suka? Kalaupun ada, berarti mempunyai kemungkinan sebagai berikut: satu, dia seorang yang tidak bisa bersenang senang atau dua, dia tidak mempunyai pekerjaan lain selain masturbasi sambil melihat buku pelajaran matematika nya.

 

Ketiga, dasar penilaian dunia akademis negeri ini hanya berbats pada hitam putih, teoritis dan seberapa panjang lidah kalian menjilati sang pengajar (setahu saya, pengajar juga manusia, manusia juga bisa salah, apalagi saya). Oh iya, itu sudah mengarah ke sebuah system sacral nan aneh yang saya sampai sekarang masih tidak percaya bahwa senioritas juga masih dipuja bahkan sampai ranah peraturan. Setiap ada pertanyaan seputar itu, selalu menemui jawaban yang sama, “aturannya memang begitu mas”, “ikuti aturannya, kamu mau sekolah disini gak?” “saya gurnya, kamu mau ngelawan?” bahkan seorang petinggi pendidikan di negara ini pun pernah mengatakan bahwa pemuda pemudi negara ini hanya bisa dinilai dari uajian akhir sekolahnya. Ah, saya bukannya tidak setuju, tetapi langkah bijak harusnya bisa lebih ditegakkan. Ada orang yang bakatnya tidak ada dalam ujian ahir nasional tersebut. Contoh saja: seseorang yang bisa melakukan Ollie 180 derajat, kickflip dari atas lantai 2 sebuah rumah dan mendarat dengan mulus, pasti suatu saat nanti akan menjadi skater profesional, dia akan menjadi kebanggan JIndonesia setelah Chris Hohn dan Christian Gonzales. Secara jubah social, dia tidak berarti apa apa bila tidak mengikuti pola umum berupa lulus pendidikan. Se-simple itu. Mungkin ceritanya berbeda bila ada sebuah ujian khusus mereka dengan bakat skate itu bukan? Hahahaha.. itu contoh saja. Coba terapkan dengan bakat lain sebagai patokannya. Kita tidak bisa lari marathon di dalam kolam renang setinggi 2 meter dengan penuh air, itulah kenapa ada istilah berenang!

Kembali ke masalah system itu, selama negara ini masih mengenal guru dan murid, dosen dan mahasiswa, bukan teman berbagi ilmu, sama saja hasilnya. Kita akan terkukung sebuah system yang paling absurd, kekangan pikiran dan kurkulum aneh. Contoh, Sejarah, mata pelajaran yang paling membuat saya tertawa hingga sekarang. Kita dijelaskan tentang manusia purba yang mana sarkofagus adalah kata yang paling saya ingat (ya, cuma itu saja). Sudah sebatas teori itu saja tentang manusia purba, berburu, meramu, have sex (ada kan ya?), nomaden, senjatanya dan blab la bla bla.. bagi saya akan lebih menarik bila runtutan itu dimulai dari penciptaan adam hawa (adam hawa manusia purba kan?). Kalau perlu Tuhan, agamanya, dan segala macam kitab yang menampungnya. Bagi saya, itu sejarah. Kita ditinggali sesuatu yang menimbulkan kerancuan lagi. Ketakutan saat membahasnya juga melatar belakanginya. Itu yang saya bilang kebebasan berpikir dikukung. Bayangkan, bahkan berpikir pun kita dikungkung aturan kuno? Kalau ada pelajaran agama, itu lain cerita. Nanti saja. Saat ada tema tentang pembantaian emo kid terhadap semua anggota FPI (aminn)..     .

 

Keempat, ini akan menjadai sangat sensitive, pertama, karena menyangkut sesuatu yang paling dicari di dunia selain Tuhan, UANG! Oke, begini, Setahu saya, sekolah atau universitas itu disebut negeri, karena biaya
nya lebih ber etika dari swasta. Sekarang? Untuk menjadi mahasiswa komunikasi di salah satu universitas negeri dibutuhkan biaya 40 juta! Itu bisa dialokasikan untuk membuat sebuah warnet sodara sodara. Atau 40 juta itu, kalikan saja dengan 30 orang mahasiswa. Kalian bisa membuat sekolah sendiri bahkan menamainya dengan “Anal Blast High School” Atau “The University Of Share Fucking”. Lebih menyenangkan bukan?

Dan berhentilah mengatakan. “ada beasiswa kok” karena itu sama saja mengatakan ke Tiff Sembiring untuk menyembah petir saja. Negara ini mengaku ingin mencerdaskan bangsa dan manusia manusianya. Niatnya sih ada. Otaknya yang gak punya. Karena pada akhirnya semua omong kosong bernama beasiswa itu hanya berakhir pada birokrasi tidak berlogika lagi.

 

Lantas bagaimana? Saya tidak menyuruh untuk menyudahi pendidikan. Yang ingin saya sampaikan adalah, berhentilah jadi orang lain. Saya mohon. Berhentilah jilat sana kemari hanya untuk sebuah nilai absurd dalam system basa basi busuk. Get a life. Negara ini krisis pemuda pemudi berpikir karena jejalan kolot orde warisan berlingkup tai. Apalah arti sebuah tampilan luar jika pada akhirnya kalian memiliki sesuatu yang lebih berwibawa didalam otak? Apa juga artinya sebuah warisan “religi” pengisi KTP jika kelakuan kalian lebih bisa dinikmati secara nyata. Apa juga arti embel embel 2 huruf gelar atau lebih, namun kelakuan kalian hanya berorientasi kepada sebesar apa kantong kalian menampung uang yang bukan jatah kalian.

 

Teruntuk mereka yang masih berkutat dengan biaya sks, darah yang menguap saat menanggungnya dan tanggung jawab terhadap nama keluarga, ber suka lah saja. Quarter life crisis itu wajar. Pencarian tidak pernah berakhir selama kalian masih menganggap diri kalian manusia layak guna. Gunakan itu. Pesannya hanya satu, jangan bikin malu ijazah. Itu lebih tidak mulia dibandingkan memotong kemaluan saingan. Yang pasti, pendidikan diciptakan untuk mendidik, bukan membodohi orang lain dan juga bukan mendoktrin kearah ideal yang sama. Manusia mempunyai kemaluannya sendiri.

 

Teruntuk mereka yang lebih memilih dunia ini sebagai ruang belajarnya. Ber suka lah saja. Karena dunia lebih nikmat dilihat dengan kacamata sendiri. Bukan milik orang lain. Bukan milik perusahaan orang. Dan bukan pelengkap seragam kecamatan. Semua jalan berporos pada pilihan personal. Masalahnya hanya pada kelogisannya saja. Kalian membuktikannya. Mencotohkannya dengan alasan paling sempurna. Seperti apa kata pepatah, jika kalian dianggap sampah, jadilah sampah daur ulang untuk energy pembangkit listrik tenaga sampah.

*gambar kaosnya dari sini*

 

Maaf jika pada akhirnya ini berbau kenegatifan yang terlalu besar. Ada saat dimana saya ingin membandingkan baik dan buruk pendidikan, namun entah kadar pikiran saya yang terlalu kurang cahaya, mengarahkan pada sisi jahatnya saja. Saat saya menemukan poros positifitasnya, saya akan menuliskannya lagi dengan hati yang berbunga. Semoga saja.

-ditulis disela jam magang, dan hati yang terpanggang karena makhluk bernama perermpuan-

-bebunyian-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s